Perumahan Cluster CASA VILLAGES Wanajaya Cibitung Bekasi Uang Muka 20Juta free Biaya Proses KPR Pajak BPHTB Standar untuk informasi Hubungi arif 089 605353 930 - 085215821621 BERHADIAH AC KHUSUS BLOK D
PROPERTY
Perumahan CASA VILLAGES
Uang Muka 20juta, Bebas Biaya Proses KPR,Unit terbatas
1 2 3 4 5

Kisah Cinta si Kaya dan si Miskin

Renungkanlah kisah cinta pria miskin dan
wanita kaya ini. Kitatidak bisa menyelami
semuanya untuk mengetahui makna cinta
yang sebenarnya. Kita tidak pernah bisa tau
bagaimana masa depan akan merubah
seseorang. Setiap hidup, ada garis takdir yang
terus berjalan,seiring nafas kita bekerja.
Setiap manusia tidak hidup dari sesuatu yang
tidak bertujuan. Kisah renungan yang sangat
bagus ini bisa dibaca untuk menambah
motivasi dan inspirasi serta perenungan.
Seorang Pemuda miskin mencintai seorang
gadis kaya. Suatu hari Pemuda itu nembak si
gadis.
Gadis itu berkata, "Dengar ya, gaji bulanan
Anda sama dengan pengeluaran harianku..!
Haruskah aku pacaran dengan Anda? Aku
tidak akan pernah mencintai Anda. Jadi,
lupakan diriku dan pacaran dengan orang lain
yang setingkat dengan Anda"
Tapi entah kenapa si Pemuda tidak bisa
melupakannya begitu saja.
10 tahun kemudian, mereka bertemu disebuah
pusat perbelanjaan.
Wanita itu berkata, "Hei Kamu!!Apa kabar?
Sekarang aku sudah menikah. Apakah kamu
tahu, berapa gaji suamiku ? Rp.20 juta
perbulan! Dapatkah kamu bayangkan ? Dia
juga sangat cerdas".
Mata Pemuda itu berlinang air mata
mendengar kata-kata wanita itu, Beberapa
menit kemudian suami wanita itu datang.
Sebelum wanita itu bisa mengatakan sesuatu,
Suaminya berkata :
"Pak...?! Saya terkejut melihat Anda disini.
Kenalkan istri saya."
Lalu dia berkata kepada istrinya, "Kenalkan
Bossku, Boss masih lajang lho..
Dia mencintai seorang gadis tapi gadis itu
menolaknya. Itu sebabnya dia masih belum
menikah. Sial sekali gadis itu.. Bukankah
sekarang tidak ada lagi orang yang mencintai
seperti itu?. "
Wanita itu merasa terkejut dan malu sehingga
tidak berani melihat kedalam mata si
Pemuda.
Kadang orang yang kita sakiti dan kita hina
jauh akan lebih sukses dari pada yang kita
bayangkan, Setelah semua terjadi timbulah
sebuah penyesalan dari dirinya. Kadang orang
yang di hina akan memakai hinaannya
untukmengapai sebuah kesuksesan.Ini hanya
sebagian cerita kehidupan nyata, Bukan harta
yang akan membuat kita bahagia, tapi
bersyukurlah yang membuat kita bahagia.

Cinta Sejati

Tersebutlah ada seekor burung pipit kecil dan
bunga mawar putih yang bersahabat.
Kedekatan mereka berangsur berubah menjadi
rasa cinta, sang burung mencintai, sangat
mencinta mawar putih dengan segenap jiwa.
Namun sayang, mawar putih tidak merasakan
apa yang di rasakan oleh sang burung karena
mawar putih tengah mencintai mawar merah.
Sang burung berusaha mengungkapkan
cintanya kepada mawar putih, dan berjuang
keras membuktikan cintanya kepada sang
mawar mutih. Namun, mawar putih tetap
tidak memperdulikan cinta sang burung dan
lebih memilih mawar merah. Namun, karena
teguhnya cinta sang burung, mawar putih
mulai luluh dan memberikan syarat kepada
burung pipit tersebut. Syaratnya adalah
Bunga akan menerima cinta sang Burung jika
sang burung bisa merubah warna mawar putih
menjadi merah.
Sang burung paham betul apa tujuan sang
mawar putih memintanya mengubah warna
bunga menjadi merah. Tidak lain agar mawar
putih mendapatkan cinta sang mawar merah.
Sang burung bingung apa yang harus di
lakukan. Namun, akhirnya sang burung
menemukan cara untuk merubah warna mawar
putih menjadi warne merah.
Suatu hari Ia terbang di atas mawar putih.
Kemudian ia melukai dirinya sendiri hingga
darah menetes ke bunga mawar sehingga
berubahlah warna mawar putih menjadi
merah. Lama kelamaan, sang burung mulai
lelah dengan luka – lukanya dan akhirnya
terjatuh.
Sang mawar baru sadar betapa besar cinta
sang burung, namun semua itu terlambat.
Sebelum akhirnya sang burung mati karena
luka – lukanya, sang burung berkata
“ Aku mencintaimu melebihi
keinginanku atas kebahagiaanku
memilikimu. Aku tahu aku takan
pernah memilikimu, namun cintaku
menembus dinding itu dan hanya ini
yang bisa aku berikan untuk
membuktikan cintaku padamu.
Selamat tingal sayangku. Aku cinta
padamu. Berbahagialah dengan
cintamu “
Penyesalan datang merayapi mawar putih
namun sayang, semua itu terlambat. Karena
sang burung telah tiada.

Sumber : Facebook

Cara Negosiasi Yang Baik

Sebelum melakukan Negosiasi ada baiknya kita benar benar paham dengan situasi dan kondisi. sehingga kita bisa mencapai tujuan dari negosiasi dengan berhasil

Langkah pertama sebaiknya kita memperkenalkan diri, dilanjutkan dengan menyampaikan keinginan dan gagasan dan memberikan kesempatan kepada klien untuk merespon keinginan anda. lakukan obrolan serius tapi  santai. tawar menawar bisa dilakukan dengan cara melihat project yang akan dibuat.

Ini sedikit tip Negosiasi yang baik. persiapkan diri, penampilan yang sopan serta sesuai dengan kondisi. karena penampilan bisa menjadi poin yang bisa menunjang keberhasilan. ingat dengan slogan. pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.

Pelajari Gagasan yang unik yang hendak kita sampaikan. lihat sudut pandang yang lain dari gagasan kita sehingga lebih unggul.

Jika respon pertama Klien sudah tidak tertarik, jangan menyerah. anda bisa mencoba sekali lagi. siapa tahu mereka belum menangkap gagasan anda yang cemerlang.

atur agar suasana negosiasi anda nyaman. dengan sikap yang ramah dan murah senyum, pasti Klien lebih nyaman berada didekat anda.

pelajari tentang Klien anda. sehingga anda bisa lebih dekat dan memudahkan dalam menyatukan gagasan anda dengan mereka.

siapkan dua pilihan untuk hasil yang akan di capai dalam negosiasi. hasil dengan tawaran minimal dan tawaran maksimal. gunakan sampling data untuk lebih menguatkan gagasan anda. jangan terlalu berlebihan dan tidak sesuai data agar klien tidak kecewa.

jangan lakukan negosiasi kalau materi atau gagasan anda belum dikuasi anda secara maksimal. penampilan anda tidak sempurna. atau anda selaly mau menang sendiri.

Jika anda sudah siap
lets go negosiasi
show must go on
teruslah berlatih...

Bapak Menteri Tenaga Kerja

Assalamu allaikum
Bapak menteri tenaga kerja ( M Hanif Dhakiri). Salam hormat.
Malam itu. Malam kami bertemu dengan Bapak menteri tenaga kerja ( M Hanif Dhakiri). Beliau sosok yang hangat dan ramah. Saya sendiri sangat mengapresiasi atas keramahan beliau menyapa semua orang.
Malam itu di adakan acara Zikir Akbar Bersama Majlis Zikir Zulfaqar Indonesia (MZZI) yang di adakan di Perumahan Villa Mas Garden.
Kami dari Majlis Zikir Zulfaqar Indonesia (MZZI) Cab Cikarang Barat. Sangat senang sekali bisa menjadi bagian dari acara Zikir Akbar Tersebut.
Bapak menteri tenaga kerja ( M Hanif Dhakiri). Salam Hormat dari Kami

Anak ku Maapkan Ibu,,

Tiduri Aku Ibu (Cerita Nyata Bukan Seks)
…Tersentak hati Bu Dina mendengar permintaan anaknya. Anak laki-lakinya ingin ditiduri, ingin diberi kehangatan darinya….kehangatan seorang wanita. Kehangatan…hmm……
—oooOooo—
Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Parasnya ayu, manies dan selalu enak dipandang. Bentuk hidung, mata, alis, bulu mata hingga ke garis pipi yang tertata indah bak bulu perindu diatas bintang timur diwaktu senja. Posturnya tubuhnya sangat ideal untuk seorang wanita. Kulitnya yang putih dan jenis rambutnya yang panjang hitam bergelombang menambah nilai keaggunannya. Kemolekan lekuk tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.
Dina, seorang wanita karir pada salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan formalnya yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.
Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu ’maskot’ pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai ’rising’ star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian). Dikenal dekat dengan bawahan. Suppel dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan jajaran pimpinan. Tipikal Dina selalu menjadi bahan pembicaraan dikalangan pegawai, gunjingan hingga tentu saja ’fitnah’ dari orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ketika terdengar kabar bahwa dia akan dipromosikan menjadi salah satu deputy kepala divisi.
’ah…paling dengan keseksiannya’ kata mereka yang tidak suka.
—oooOooo—
”Ibu mau kemana….?” tanya Fitri, puteri bungsunya
”Ibu mau berangkat ke kantor nak…” jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya
”Kok masih gelap bu….bareng ayah gak bu…?” tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel
”Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung…” jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya
Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.
”Aku tidak boleh terlambat…aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang..” pikir Dina dalam hati
”Bu, aku masih mau tidur….” kata Fitri
”Iyya nak….”
.Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, ”Nanti sekolah sama si Mbok ya….sarapan disekolah juga gak apa-apa kok…Ibu harus berangkat pagi-pagi…”
”Ah, Ibu…kemarin sudah pegi pagi…kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi…” keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya
”Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit…..untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan…” jawab Dina pelan
”Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok…sekolah juga sama si Mbok….” keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.
”Fitri, Ibu mau berangkat…..kamu berangkat sama si Mbok ya…!” seru Dina dengan sedikit keras dan wajah agak memerah.
Dina segera keluar kamar. Dia memang tidur bersama anak puterinya yang masih berusia tiga tahun. Ketika akan membuka pintu kamar, Dina menyempatkan diri melihat raut wajahnya dicermin.
Terlihat jelas rona merah diwajahnya. Warna kulitnya yang putih menambah kejelasan ’rona merahnya’. Dina menghela nafas panjang, kemarahan sesaat telah merubah tutur bahasanya. Sudah merubah pula paras ayunya…
”Huh…Fitri selalu membuat aku marah….Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor…” keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.
”Ah sudah pk. 04.45…aku bisa terlambat …”
Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya….Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya…
”Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah…”
—oooOooo—
Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja). Sambutan itu ditandai dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dan ucapan selamat yang seolah tak putus.
Senyum sumringah tersembul dari wajah Dina. Perasaan puas memenuhi rongga hatinya. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat….”Akhirnya aku berhasil….”
Untung aku bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untung juga aku tiba lebih awal sehingga bisa mengkondisikan semuanya…….
”Dina selamat ya….tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan…..” kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.
Jabatan tangan yang terasa ’lain’. Terasa ada getaran ’hangat’ yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang…entah perasaan apa itu. Yang jelas perasaan itu membuatnya pikirannya ’kacau’, hatinya diliputi oleh suatu misteri..entah misteri apa
”Dina, kerja kamu luar biasa…..masih muda, cantik, jenius….tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb…..” kata seorang Komisaris
Pujian komisaris menambah kencang degup jantungnya…seolah darah berhenti mengalir. Seolah kaki sulit untuk digerakkan. Dengan menghirup nafas pelan, Dina membalas pujian tsb
”Terima kasih Pak..terima kasih…semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak…”
”Berapa usiamu sekarang… adakah 40…?” tanya Komisaris itu lagi
Dina tersipu malu…..rona merah kembali menghiasi wajahnya….
”Saya baru 34…. Pak…” jawab Dina sambil tertunduk malu
”Wow…Surprise…kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi…semoga kamu sukses ya….”
Dina terkesima. Tak percaya. Calon direksi….? ah, gak mungkin… aku salah dengar….
—oooOooo—
Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun.
Ohhhhh….lelah pikiran dan badannya membuatnya agak sedikit malas untuk bangun. Namun undangan stake holder untuk sekedar minum kopi pagi di Kafe Padang Golf mengharuskan dia untuk segera bergegas…..
”Ah….ngantuknya…..”
Dina kembali merahkan badannya….rasanya dia ingin meliburkan diri bersama anak-anaknya….terutama Fitri yang kemarin membuatnya sedikit marah….
Tapi…undangan Direksi dan Komisaris adalah sebuah ’Perintah’…laksana titah Raja yang harus dijalankan, meskipun hanya ajakan sambil lalu…
”Ahhhh…..”
Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek….tampil agak cantik dan…hmmmm..seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting ’penguasa’ kantor….’apalagi bila….bila ada yg tertarik padaku…’ pikirnya..
’ah pikiran ngelantur…..’ pikirnya lagi
”Ibuuuu….Tolong tiduri aku Bu….” seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarung entah kemana
”Adiiit….?” tanyanya heran
”Adiit….” seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.
”Ibuuu…tolong tiduri aku bu…semalam aku gak bisa tidur…aku kepikiran Ayah….aku ingin bermain bersama Ayah….”
”Adit. Hari ini Ibu masuk kantor….Ibu akan bertemu Bos di kantor…” jawab Dina
”Ibuuu…tolong tiduri aku…aku ngantuk …pengen tidur bareng Ibu…” pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya…
Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah….perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul….tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi…dus, dia sudah berdandan seksi.
Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya…
”ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya….semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang….” bathin Dina dalam hati….seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.
”Adiiit, Ibu harus pergi sayang…..Ibu harus masuk kantor…..”
”Tapi buu…” Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.
Dina meneruskan riasannya dimuka cermin yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Bibirnya diolesi lipstick tipis warna merah muda, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Pakaian terbaik yang dimilikinya, hadiah Ulang Tahun dari Mas Darman suami tercinta.
”Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku ’Cantiiik’..hehehe…sayang dandananku saat ini untuk orang lain….”
”Huk..huk..huk..” suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit
”Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin” tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya
”Huk..huk..huk..” suara itu kembali terdengar
“Mboookkk….tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih” teriak Dina dari dalam kamarnya
Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pertemuan dan sarapan kopi pagi baru akan dimulai pk. 06.00. Tapi biasanya banyak yang sudah datang dengan perlengkapan stick golf, termasuk pemilihan ’caddy’ pendamping permainan golfnya nanti.
—oooOooo—
Dina sangat menikmati suasana Kopi Paginya. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi, Komisaris dan Pimpinan Unit Mitra Kerja. Apalagi dalam acara yang dikemas secara informal ini. Seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka. Jajaran elit perusahaan.
”Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu…meski tak layak ku harap debu Cinta-MU” ringtone HP Dina berbunyi….
”Maaf Pak,,,,,,,” Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya
”Silakan ..silakan….ini suasana santai kok” jawab salah seorang Direksi
”Permisi Pak”
”Meski begitu ku akan bersimpuh… Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu….” ringtone itu terus berbunyi…
Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya…
”Hallo….” sapanya
”Bu…kamu ada dimana sekarang….?” tanya suara disana dengan lembut
”Sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yahas…” jawab Dina
Ohhh,…ternyata dari mas Darman, suaminya. Dina terbiasa memanggilnya Ayah, menyesuaikan diri dengan panggilan anak-anaknya
”Loch emangnya masuk… ?” tanya Mas Darman lagi
”Iyya Yah…”
”kapan pulangnya…Adit sakit di rumah kata si Mbok…”
”nanti siang…..atau mungkin juga sore…”
”Yaa sudah…biar Ayah saja yang pulang segera”
—oooOooo—
Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya. Sarapan Kopi Pagi di kafe Padang Golf ternyata diteruskan dengan acara ramah tamah dan meeting informal dengan Mitra Kerja dan Klien. Beberapa Kontrak Kerja ’deal’ setengah kamar dalam ramah tamah itu. Dina baru mengetahui kalau banyak ’deal’ ’deal’ kontrak kerja yang putus di Kafe, Padang Golf serta jamuan makan. Mungkin karena lebih santai dan informal….pikirnya, sehingga lebih mudah untuk bicara dari hati ke hati
Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.
”Ada apa ini…?” tanya Dina dalam hati
Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan…
”Ohh ada yang meninggal….”
Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya….
Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan….dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah…
”ohh…apakah…apakah…..”
”Tidaaaakkkkkkkkk”
Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.
Air mata Dina deras mengalir ketiak ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur’an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur’annya..
”Mas Darman…..Ayahhhhhh” seru Dina setengah berteriak
“Ayah siapa yang meninggal Yah….?” tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi
”Ayah..siapa yah….?” tanyanya lagi
Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup
Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.
”Yaa Allah…Aadiiitttt” Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu
”Maafkan Ibu Nak….maafkan Ibu nak…….” teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah
”Adddiiiiittttt….Sini nak…Ibu akan tiduri kamu…Ibu akan tidur bersamamu Nak…..”
”Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang…Ibu sudah pulang nak….”
”Ibu ingin tidur bersama mu….”
Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya….air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak….namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya…
”Bu….ini salah kita..salah Ayah….Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga..”
”Bukan Yah…ini salah Ibu…tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak…”
”Ya sudahlah…ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah akut. Dan terlambat ditolong…..”
—oooOooo—
Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang paling indah adalah istri yang sholeh (Amar’atush-Sholihah), suami yang adil (’imamun ’adilun) dan anak-anak yang mendoakan orang tuanya (awaladdun sholihin yad’ulah)
Salam ukhuwah elha
Sumber : Facebook Masyarakat Gemar Membaca